Tentang Cita-Cita Baru

sherina

Saya tidak lahir di keluarga yang menjadikan film sebagai bagian hidup.
Dulu, film sangat jauh dari hidup saya.

Sejauh yang dapat saya ingat, ketika saya masih kecil, orang tua saya tidak pernah mengajak saya menonton film di bioskop. Sebagai bentuk hiburan, Ayah lebih sering mengajak saya berkelana keliling kota dengan Vespanya. Sesekali beliau mengajak saya ke Taman Mini Indonesia Indah untuk menonton biduan di Taman Ria Atmaja. Hal yang tidak jauh berbeda juga dilakukan Ibu. Sebagai ibu rumah tangga, Ibu menjadikan televisi sebagai sumber hiburannya. Saat masih bocah, menemani Ibu menonton sinetron adalah kegiatan saya setiap hari.

Saya pertama kali menonton film di bioskop tahun 2000.
Waktu itu salah seorang Tante saya —yang kebetulan cukup gaul— mengajak saya menonton Petualangan Sherina di 21 Graha Cijantung. Di tahun itu, Petualangan Sherina adalah film fenomenal. Tiketnya selalu ludes terjual. Banyak orang bersesakan mengantri membeli tiket. Saya, yang pada saat itu baru naik ke kelas lima sekolah dasar, menjadi salah satu di antaranya. Memori suasana bioskop yang sangat ramai, antre berjam-jam hingga kaki pegal demi mendapat tiket, kedinginan karena tidak biasa dengan suhu dingin di dalam studio, dan perasaan takjub menonton di layar yang super besar masih terbayang jelas di kepala saya.

Petualangan Sherina menjadi film pertama yang saya tonton di bioskop.
Sebagai penggemar Sherina, saya sangat menikmati akting dan lagu-lagu yang dinyanyikannya di dalam film. Tapi lebih dari itu, Petualangan Sherina membuat saya menyadari hal baru: di dunia ini ada seseorang yang pekerjaannya menulis cerita untuk film. Di dunia ini ada pekerjaan bernama penulis skenario. Dan dalam film Petualangan Sherina, pekerjaan tersebut diisi oleh seseorang bernama Jujur Prananto.

Sebagai seseorang yang gemar menulis, fakta ini tentu saja membuat saya gembira. Setelah menonton Petualangan Sherina, saya yang semula bercita-cita menjadi penulis buku memiliki cita-cita baru: saya ingin menulis skenario film. Saya ingin menulis cerita film yang dapat membuat penonton terhibur —seperti yang saya alami ketika terlarut mengikuti kisah Sherina yang ditulis Jujur Prananto.

Tahun 2000. Umur saya baru 10 tahun.
Saat itu, saya menemukan mimpi baru. Saat itu saya yakin bahwa suatu saat nanti —entah kapan— saya pun bisa menulis skenario film seperti Jujur Prananto.

Sumber foto: Facebook.

Tentang Terlalu Banyak Media Sosial

Dunia bergerak sangat cepat. Teknologi tidak pernah berhenti berkembang. Dan tiap harinya, terlalu banyak media sosial yang seolah menggerakkan -dan menuntut- kita untuk ikut aktif di dalamnya. Facebook, Twitter, YouTube, Instagram, Path, Snapchat, dan yang kini sedang naik daun: Steller.

Tentu saja saya tidak anti media sosial. Saya termasuk seseorang yang tiap harinya selalu menggenggam telepon pintar dan terhubung dengan beragam media sosial. Banyak aplikasi memenuhi memori telepon pintar saya. Banyak waktu terbuang demi keinginan berbagi apa saja di media sosial. Banyak hal yang menjadi berubah seiring dengan terlalu seringnya saya aktif di media sosial.

Buku-buku menumpuk, belum sempat dibaca. Projek pribadi yang tertunda dan belum sempat dimulai. Blog yang semakin ditinggalkan. Kegiatan bersosialiasi secara nyata yang tampak mulai usang dan hilang esensinya karena selagi bertemu tiap orang sibuk dengan telepon pintarnya masing-masing. Itu hanya sedikit dari dampak media sosial yang membuat saya gelisah. Tentu saja di sisi lain media sosial juga memiliki peran dan manfaat yang baik untuk kehidupan, saya tidak memungkiri hal itu. Tapi semakin lama, saya lelah.

Kontrol, itu kata kuncinya.
Saya melakukan seleksi. Saya lanjutkan yang baik. Saya tinggalkan yang kurang bermanfaat. Pelan-pelan saya menyingkir.  Saya tidak berhenti. Saya hanya mengurangi porsi. Saya percaya, tidak semuanya harus diikuti.

Tentang Pilihan

Hidup selalu menawarkan banyak pilihan.
Dan ketika usia terus bertambah, pilihan-pilihan dalam hidup seperti beranak pinak.

Dulu saya bisa menetapkan pilihan tanpa berpikir. Sewaktu kecil, saya selalu menetapkan pilihan berdasarkan apa pun yang saya suka. Saat saya menyukai sesuatu, saya akan memilih hal tersebut. Sesederhana itu. Tanpa berpikir. Tapi sekarang, ketika usia saya sudah lebih dari seperempat abad, menentukan pilihan tidak lagi sesederhana itu.

Kita selalu dihadapkan pada dua opsi ini: menikmati masa kini atau merancang masa depan/ bersenang-senang sekarang atau bersusah payah sekarang demi masa depan yang menyenangkan / menghabiskan uang untuk hal-hal yang kita suka atau menabung / berinvestasi dalam bentuk pengalaman ketika berwisata atau berinvestasi dalam wujud properti

Seperti yang saya tulis di atas, saya terbiasa menetapkan pilihan berdasarkan apapun yang suka. Saya suka berwisata. Saya suka bersenang-senang. Saya sering selalu menggunakan uang untuk melakukan hal-hal yang saya suka. Dan sejujurnya saya tidak suka menabung. Tapi kini, seiring dengan berjalannya waktu dan ketika pikiran saya tidak melulu fokus di masa kini, pemikiran untuk menyiapkan masa depan mulai menyusup.

Belum, saya belum bergerak sejauh itu. Boro-boro menyiapkan dana darurat, tabungan saja saya gak punya. Iya sih, ini memalukan. Tapi paling tidak, dengan menulis hal memalukan ini di sini, saya bisa jujur ke diri sendiri dan semakin menyadari bahwa kemampuan saya mengatur finansial masih jauh dari kategori baik. Dan dari penyadaran ini, saya ingin bergerak ke arah yang lebih baik.

Tiap individu punya tanggung jawab atas hidupnya.
Terkait dengan tanggung jawab tersebut, saya punya banyak PR di sektor finansial, tapi saya yakin pelan-pelan bisa membereskannya. Saya ingin tetap bisa menikmati masa kini sambil mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Berubah, yuk!

Menunda Keajaiban

Saya adalah manusia yang tidak sabar.
Salah satu wujud ketidaksabaran saya adalah kedatangan saya ke bumi yang lebih cepat dua bulan dari jadwal yang seharusnya. Saya lahir prematur karena saya tidak sabar mau cepat melihat dunia.

Dalam banyak hal, saya ingin segalanya berjalan cepat.
Saya bosan dengan sesuatu yang lambat.
Saya mau hidup bergerak dinamis hingga tidak ada ruang untuk bosan.
Jika menginginkan sesuatu, saya tidak akan menunda waktu dan akan segera melakukan segala cara demi mendapatkannya.

Saya terbiasa hidup dengan cara seperti itu.
Saya terbiasa mengejar apa yang saya mau dan berjuang mati-matian demi bisa meraihnya dalam tempo sesingkat-singkatnya. Daripada menghabiskan waktu untuk menanti, saya memilih berjuang dan mengerahkan kemampuan demi bisa mendapatkan apa yang saya mau.

Saya jarang memberi jarak untuk apa yang saya inginkan.
Di kamus saya, berpikir dua kali atau memikirkan segala sesuatu dengan matang, merupakan sesuatu yang jarang terjadi. Di hidup saya, seringkali logika dikalahkan oleh letupan dahsyat di dada. ‘Cepat’ menjadi kata kunci. ‘Sekarang’ menjadi keharusan. Dan ‘menunggu‘ bukan sesuatu yang saya suka.

Tapi ternyata apa yang selama ini saya jalani tidak sepenuhnya benar.
Seiring dengan berjalannya waktu saya belajar bahwa keajaiban butuh proses. Instan tidak sepenuhnya tepat. Dan bahwa hal-hal baik butuh waktu yang tidak sedikit. Saya sadar bahwa apa yang saya impikan dan apa yang saya rencanakan tidak semuanya bisa terjadi sekarang, saat ini, atau dalam waktu dekat. Saya mengerti bahwa ada pilihan waktu yang baik untuk setiap rencana. Waktu yang telah ditentukan Pencipta. Momen yang tidak bisa digugat.

Dari penyadaran ini, saya belajar untuk menikmati masa kini. Saya mencoba bersahabat dengan harapan selagi berjuang untuk terus berjalan. Karena masa lalu tidak bisa direvisi, masa kini sebaiknya dinikmati, dan masa depan merupakan misteri ilahi.

Misi Tahun Ini

image

Tahun ini (seperti biasa) saya (selalu) ambisius.
Sebelum tahun ini dimulai, saya sudah punya daftar apa yang ingin saya raih, apa yang ingin saya kerjakan, apa yang ingin saya pelajari, cerita apa yang ingin saya tulis, tempat mana yang ingin saya kunjungi, benda apa yang ingin saya beli. Daftar saya banyak.

Dari daftar tersebut, saya membuat turunannya. Saya sudah merencanakan hidup saya (dengan cukup detail) untuk caturwulan pertama di tahun ini. Hidup saya sudah terprogram. Rapi. Teratur. Terencana. Terarah.

Saya sangat bersemangat. Tapi di sisi lain, saya bergidik ketika membaca daftar-daftar yang saya tulis di buku. Dari semua hal yang tertulis di dalam daftar, saya lupa mencantumkan satu hal: bersenang-senang.

Saya tidak mau 2016 menjadi tahun yang membuat saya terbebani dengan serangkaian daftar yang harus saya penuhi. Saya tidak mau 2016 menjadi tahun yang mengerikan, melelahkan, dan membosankan. Saya mau 2016 menjadi tahun baik yang menyenangkan.

Saya punya satu misi: bersenang-senang sepanjang 2016.
Bismillah.